Rabu, 14 Januari 2026

     

Aktivitas produksi sepatu di pabrik rumahan milik Riwayat di Desa Karangsono, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan. (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

Aktivitas produksi sepatu di pabrik rumahan milik Riwayat di Desa Karangsono, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan. (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)AAA

PASURUAN, RadarBangsa.co.id – Di tengah dominasi sepatu impor dan produk pabrikan berskala besar, sebuah pabrik sepatu rumahan di Dusun Karangsono, Desa Karangsono, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan, tetap bertahan dan produktif selama puluhan tahun. Usaha milik Riwayat ini menjadi contoh ketangguhan industri rumahan dalam menopang ekonomi lokal.

Memasuki rumah sekaligus tempat produksi milik Riwayat di RT 2 RW 5, deretan sepatu berbagai jenis langsung terlihat. Mulai dari safety shoes hingga sepatu bergaya sporty diproduksi secara mandiri oleh para pekerja, Selasa (13/1/2026).

Pantauan di lokasi menunjukkan aktivitas produksi telah dimulai sejak pagi hari. Sejumlah pekerja tampak mengukur pola, memotong bahan kulit, memasang sol luar, hingga mengemas sepatu siap kirim. Proses produksi tidak terpusat di satu ruangan, melainkan tersebar di beberapa titik di sekitar rumah Riwayat, menyesuaikan kapasitas dan jenis pekerjaan.

Riwayat menuturkan, usaha sepatu kulit tersebut ia rintis sejak 1990, setelah memutuskan berhenti bekerja sebagai buruh pabrik sepatu di Surabaya. Keputusan itu diambil dengan modal keterampilan yang diperoleh selama bekerja di industri alas kaki.

“Dulu saya buruh pabrik sepatu di Surabaya. Saya ingin berhenti dan mencoba membuat sepatu sendiri di rumah,” kata Riwayat.

Perjalanan usaha tersebut tidak selalu berjalan mulus. Riwayat mengaku pernah mengalami masa sepi pesanan, bahkan hampir menyerah, terutama saat pandemi Covid-19 melanda dan permintaan menurun drastis.

“Dalam usaha pasti ada naik turunnya. Tapi dengan sabar dan tekun, alhamdulillah semuanya bisa dilewati,” ujarnya.

Saat ini, pabrik rumahan tersebut justru tak pernah sepi pesanan. Dalam setahun, sedikitnya tiga perusahaan menjalin kerja sama pembuatan safety shoes. Total pesanan mencapai 2.500 hingga 3.000 pasang sepatu dengan tenggat pengerjaan sekitar enam bulan.

Riwayat menyebut, harga sepatu yang diproduksi dibanderol mulai Rp140.000 hingga jutaan rupiah, bergantung jenis dan kualitas bahan. Produk tersebut dipasarkan untuk kebutuhan industri maupun pemesanan khusus.

Sementara itu, Kepala Desa Karangsono, Muhammad Alim, menyatakan bahwa Riwayat merupakan satu dari sedikit pengrajin sepatu yang masih bertahan. Dahulu, sekitar sepertiga warga desa berprofesi sebagai pengrajin sepatu. Namun, seiring perubahan zaman, jumlahnya terus menyusut.

“Sekarang mungkin tinggal sekitar lima titik saja. Salah satunya ada di RT 2 RW 5 ini,” ujar Alim.

Keberadaan pabrik sepatu rumahan ini dinilai berkontribusi menjaga tradisi industri alas kaki sekaligus membuka lapangan kerja bagi warga sekitar, di tengah tekanan persaingan global.

Ketahanan usaha sepatu rumahan di Desa Karangsono menunjukkan bahwa industri kecil masih memiliki ruang bertahan dan berkembang, terutama jika ditopang keterampilan, konsistensi kualitas, dan dukungan lingkungan sekitar.

Penulis : Ahmad

Editor : Zainul Arifin